Monday, November 3, 2014

Reflective Essay Outbond ke Baturraden Adventure Forest (BAF)

Nama : ANGGUN TRISNA .W
NIM    : G1D014011
Kelompok : 3
Reflective Essay Outbond ke Baturraden Adventure Forest (BAF)


Description
    Pada hari Jum’at tanggal 30 Oktober 2014 seluruh mahasiswa jurusan keperawatan  angkatan 2014 berkesempatan untuk mencoba outbond di Baturraden Adventure Forest (BAF) dengan biaya 215 ribu per orang. Biaya tersebut sudah termasuk dengan menyewa kendaraan dan biaya makan disana.
    Baturraden Adventure Forest (BAF) terletak  sekitar 1,7 KM dari pintu masuk wisata pancuran tujuh (pintu timur) atau sebelum lokawisata Telaga Sunyi, begitu sampai di area Baturraden Adventure Forest (BAF), saya kagum dengan keasrian dan kesejukan tempatnya. Setelah itu seluruh mahasiswa diajak untuk naik keatas, terutama menuju kantin yang telah menyediakan snack dan minuman. Tidak lama dari itu, seluruh mahasiswa diharapkan berkumpul di lapangan untuk melakukan permainan yang peraturannya adalah bagi kelompok yang memenangkan permainan tersebut mendapat kesempatan untuk mencoba paket outbond yang pertama yaitu flaying fox. Dan kelompok saya berkesempatan untuk mencoba flaying fox. Sebelum menuju ke permainan flaying fox, mahasiswa yang ingin meluncur diharapkan untuk memakai alat pengaman.
    Pada malam harinya kegiatan pun dilanjutkan dengan acara api unggun. Acara tersebut diikuti oleh mahasiswa. Untuk kelancaran acara, acara tersebut dipandu oleh pemandu dari BAF. Udara yang begitu dingin dan nyala api unggun yang menemani kita semua di acara tersebut.
    Keesokan harinya, tepatnya di pagi hari. Mahasiswa diharapkan untuk bangun pukul 04.00 WIB agar mahasisawa dapat melihat sunrise. Tetapi waktu pun berkata lain, mahasiswa tidak dapat melihat sunrise dikarenakan kesiangan menuju kaki gunung slamet. Walaupun tidak bisa melihat sunrise, mahasiswa tidak merasa kecewa karena mahasiswa tetap mendapat kegiatan yaitu trekking melewati lereng-lereng gunung slamet yang begitu curam.
    Hari pun telah sore, tetapi mahasiswa tetap disibukkan dengan permainan-permainan yang ada disitu. Permainan pada sore hari itu cukup menciptakan sebuah kebersamaan yang luar biasa, yaitu menjaga lilin agar tetap hidup dan sampai d sungai. Dalam permaianan itu, seluruh mahasiswa ikut berperan dalam menjaga lilin. Dan pada akhirnya lilin itu tetap hidup hingga sampai d sungai.

Feeling
    Perasaan saya ketika mengikuti kegiatan outbond ke Baturraden Adventure Forest (BAF) adalah senang dan sedih. Perasaan senang saya rasakan ketika kegiatan permainan bersama yang diadakan oleh pemandu. Dan saya merasakan sedih ketika hari pertama bermain flaying fox. Saya ssedih karena sayad dipaksa untuk mengikuti permainan itu, tetapi saya tetap tidak mau krena saya phobia dengan ketinggian. Selain itu, saya merasakan sedih kembali pada saat acara api unggun, yaitu ketika kelompok saya menyanyikan lagu “bunda”. Lagu tersebut membuat saya menangis karena saya merasa sangat kangen dengan seoranga ibu saya.

Evaluation
    Kegiatan outbond ini sangat bermanfaat. Karena telah mengajarkan saya untuk membentuk sebuah karakter. Salah satu contohnya adalah membentuk karakter yang pantang menyerah dalam melakukan suatu kegiatan apapun.

Analysis
    Kegiatan outbond ini membawa sikap positif untuk seluruh mahasiswa jurusan keperawatan angkatan 2014 terutama saya. Selain itu, kegiatan outbond ini mempunyai arti tersediri untuk saya yaitu dapat membentuk dapat membentuk sebuah karakter di dalam diri saya.

Conclusion
    Kesimpulan dari kegiatan outbond ini adalah saya dapat mengetahui arti sebuah kebersamaan terutama disaat melakukan kegitan-kegiatan bersama kelompok yang membutuhkan kerja sama atau kekompakan.

Action Play

    Setelah diadakannya kegiatan ini diharapakan kepada mahasiswa keperawatan angkatan 2014 dapat menerapkan sikap yang sudah  didapatkan selama berada disana. Sikap tersebut dapat diambil dari semua permainan yang sudah dilakukan dan diharapkan sikap tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini adalah beberapa foto are Baturraden Adventure Forest (BAF) :




Sunday, October 26, 2014

Reflective Essay : Kunjungan ke Monumen Pangsar TNI Jenderal Soedirman

NAMA          : ANGGUN TRISNA WATI
NIM              : G1D014011
KELOMPOK : 3
Reflective essay kunjungan ke monumen pangsar TNI Jenderal Soedirman

Description
Pada hari jum’at, 24 Oktober 2014 saya mengikuti kunjungan ke Monumen Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman. Monumen Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman berada di kota Purwokerto. Monumen ini terdiri dari dua lantai. Pada lantai bawah berisi foto-foto perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam merebut Yogyakarta kembali sebagai ibukota Indonesia (pada saat itu) dari kolonial Belanda. Foto-foto berukuran besar tersebut bergantungan di dinding yang melingkar. Ada juga biografi singkat, amanat Panglima Besar, lukisan patung dada, dan peta rute gerilya dilengkapi sebuah replika tandu gerilya. Pada lantai dua berisi relief sejarah bangsa Indonesia dalam Perang Kemerdekaan  1945 dan patung Jenderal Soedirman yang duduk diatas punggung kuda yang terbuat dari perunggu seberat 5,5 ton dan tinggi 4,5 meter. Patung Jenderal Soedirman memiliki arah hadapan yang berbeda. Patung kuda menghadap ke arah sebelah barat sedangkan Jenderal Soedirman menghadap ke sebelah timur.
Jenderal Soedirman lahir pada hari senin pon tanggal 24 Januari 1916 di Dukuh Rembang, Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sekitar 30 kilometer dari pusat kota Purbalingga. Jenderal Soedirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat sianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang Jenderal. Beliau merupakan orang termuda dan sekaligus pertama di Indonesia. Sejak kecil, beliau merupakan seorang anak yang pandai dan juga sangat menyukai organisasi. Dimulai dari organisasi yang terdapat di sekolahnya dahulu, beliau sudah menunjukkan criteria pemimpin yang disukai di masyarakat. Keaktifan beliau pada pramuka hizbul wathan menjadikan beliau seorang guru sekolah dasar Muhammadiyah di kabupaten Cilacap.
Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya  melawan Belanda. Pendidikan Jenderal Soedirman dimulai dari pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa  nasional tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat karena ayahnya meninggal dan kembali ke Cilacap. Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Pendidikan di PETA dilakukan oleh tentara Jepang pada saat itu. Ketika sudah menyelesaikan pendidikannya di PETA, kemudian beliau menjadi seorang Komandan Batalyon yang berada di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian beliau menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TKR).
Soedirman dikenal oleh orang-orang di sekitarnya dengan pribadinya yang teguh pada prinsip dan keyakinan, dimana beliau selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya, bahkan kesehatannya sendiri. Pribadinya tersebut ditulis dalam sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal pribadinya semasa gerilya, sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.  Pada masa pendudukan Jepang ini, Soedirman pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Banyumas. Dalam saat ini beliau mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, pasukan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Pasukan Sekutu dan Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Soedirman mendapat prestasi pertamanya sebagai tentara setelah keberhasilannya merebut senjata pasukan Jepang dalam pertempuran di Banyumas, Jawa Tengah. Soedirman mengorganisir batalyon PETA-nya menjadi sebuah resimen yang bermarkas di Banyumas, untuk menjadi pasukan perang Republik Indonesia yang selanjutnya berperan besar dalam perang Revolusi Nasional Indonesia.
Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, kemudian beliau diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, beliau terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Selanjutnya beliau mulai menderita penyakit tuberkulosis, walaupun begitu selanjutnya beliau tetap terjun langsung dalam beberapa kampanye perang gerilya melawan pasukan NICA Belanda.
Menangnya Pasukan Sekutu atas Jepang dalam Perang Dunia II membawa pasukan Belanda untuk datang kembali ke kepulauan Hindia Belanda (Republik Indonesia sekarang), bekas jajahan mereka yang telah menyatakan untuk merdeka. Setelah menyerahnya pasukan Jepang, Pasukan Sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang. Ternyata pasukan sekutu datang bersama dengan tentara NICA dari Belanda yang hendak mengambil kembali Indonesia sebagai koloninya. Mengetahui hal tersebut, TKR pun terlibat dalam banyak pertempuran dengan tentara sekutu.
Perang besar pertama yang dipimpin Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945. Pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Soedirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember 1945, Soedirman melancarkan serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris di Ambarawa. Pertempuran terkenal yang berlangsung selama lima hari tersebut diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir tanggal 16 Desember 1945.
Setelah kemenangan Soedirman dalam Palagan Ambarawa, pada tanggal 18 Desember 1945 beliau dilantik sebagai Jenderal oleh Presiden Soekarno. Beliau memperoleh pangkat Jenderal tersebut tidak melalui sistem Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya, tapi karena prestasinya. Saat terjadinya Agresi Militer II Belanda, Ibukota Republik Indonesia dipindahkan di Yogyakarta, karena Jakarta sudah diduduki oleh tentara Belanda. Soedirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan Belanda II tanggal 19 Desember 1948 tersebut. Dalam perlawanan tersebut, beliau sudah dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya sejak lama. Walaupun begitu beliau tetap ikut terjun ke medan perang bersama pasukannya dalam keadaan ditandu, memimpin para tentaranya untuk tetap melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda secara gerilya.
Penyakit yang diderita beliau saat berada di Yogyakarta semakin parah. Paru-parunya yang berfungsi hanya tinggal satu karena penyakitnya. Yogyakarta pun kemudian dikuasai Belanda, walaupun sempat dikuasai oleh tentara Indonesia setelah Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat itu, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta dan beberapa anggota kabinet juga ditangkap oleh tentara Belanda. Karena situasi genting tersebut, Soedirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan perang gerilya. Ia berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah dan dalam kondisi hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Walaupun masih ingin memimpin perlawanan tersebut, akhirnya Soedirman pulang dari kampanye gerilya tersebut karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin Angkatan Perang secara langsung. Setelah itu Soedirman hanya menjadi tokoh perencana di balik layar dalam kampanye gerilya melawan Belanda.
Setelah Belanda menyerahkan kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag, Jenderal Soedirman kembali ke Jakarta bersama Presiden Soekarno, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Pada tangal 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Beliau dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada tahun 1997, beliau mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa jenderal di RI sampai sekarang.

Feeling
Perasaan saya ketika mengikuti kegiatan kunjungan ke monumen pangsar  TNI Jenderal Soedirman adalah senang. Karena dengan diadakannya kegiatan ini saya dapat mengetahui tentang bagaimana sejarah perjuangan Jenderal Soedirman. Selain itu, kegiatan kunjungan ini dapat menimbulkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi sebagai generasi muda untuk selalu mengingat sejarah bangsa Indonesia ini.

Evaluation
Kegiatan kunjungan ini sangat bermanfaat. Karena telah kita ketahui bahwa akhir-akhir ini banyak sekali generasi muda yang tidak mau tahu atau tidak peduli tentang sejarah bangsa Indonesia. Saya ambil contoh, dalam kegiatan kunjungan kemarin ada beberapa mahasiswa yang tidak memperhatikan penjelesan dari juru bicara monumen pangsar TNI Jenderal Soedirman, tetapi malah asyik dengan kegiatan berfoto-foto. Menurut saya hal tersebut sangat disayangkan sekali.

Analysis
Kegiatan kunjungan ini membawa banyak sikap positif untuk saya. Selain itu, kegiatan ini juga mempunyai makna tersendiri untuk saya yaitu saya dapat mengetahui begitu semangatnya Jenderal Soedirman ketika berperang untuk membela tanah air Indonesia ini.

Conclusion
Kesimpulan dari kegiatan kunjungan ini adalah saya dapat mengetahui sejarah perjuangan Jenderal Soedirman. Selain itu saya dapat lebih menghargai jasa-jasa pejuang terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, terutama jasa Panglima Besar Jenderal Soedirman yang berjuang dengan keadaan sakit.

Action Play

Setelah diadakannya kegiatan kunjungan ini diharapkan kepada generasi muda penerus bangsa agar dapat mengetahui sejarah bangsa Indonesia, serta dapat menumbuhkan sikap nasionalisme dan patriotisme yang tinggi untuk menghargai jasa-jasa para pejuang terdahulu.

Berikut ini adalah beberapa foto hasil dari kunjungan ke Monumen Pangsar TNI Jenderal Soedirman :






Wednesday, October 1, 2014

Reflective Essay : Photovoice

NAMA                        : ANGGUN TRISNAWATI
NIM                             : G1D014011
NAMA AKTIVITAS  : REFLECTIVE  ESSAY
KELOMPOK              : 6


1.Description (Deskripsi)
       Pada tanggal 26 September 2014 tepatnya di pagi hari, saya mengikuti kegiatan photovoice group discussion yang dilaksanakan di tengah lapangan kampus jurusan keperawatan Unsoed. Berjalannya kegiatan ini dipandu oleh dosen saya yang bernama Bapak Ryan Hara Permana, S.Kep.,Ns.MN. Kegiatan ini diikuti oleh semua mahasiswa jurusan keperawatan Unsoed angkatan 2014. Di dalam kegiatan ini, semua mahasiswa terbagi dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 5 samapi 6 orang di masing-masing kelompok. Disini setiap orang mendapat tugas untuk mendeskripsikan hasil photovoice mereka dengan tema “Usaha orang tua dalam membantu pendidikan kita”.
2.Feelings (Perasaan)
      Perasaan saya ketika mendeskripsikan hasil photovoice yang telah saya buat yaitu senang. Saya senang karena pada hari itu saya mendapat urutan pertama untuk mendeskripsikan hasil photovoice yang telah saya buat pada saat itu. Tetapi setelah dipertengahan jalan saat  mendeskripsikan, saya merasa sedih dan saya pun hampir menangis karena melihat poto orang tua saya yang sedang bekerja. Orang tua saya bekerja keras untuk membiayai pendidikan saya dari dulu hingga sekarang. Orang tua saya memang cocok menjadi figure orang sukses dan figure penyemngat buat saya.
3.Evaluation (Evaluasi)
     Dengan adanya kegiatan photovoice ini saya jadi memperoleh beberapa kesan penting.Setiap orang di kelompok saya mendeskripsikan hasil photovoicenya dengan baik.Dari photovoice itulah saya memperoleh pemikiran tentang kerja keras orang tua saya. Dan seharusnya saya sudah mempunyai pemikiran itu dari dulu, namun sifat egois lah yang membuat saya lebih memikirkan diri sendiri dibandingkan memikirkan pengorbanan orang tua saya.
4.Analysis (Analisa)
     Seandainya saya mempunyai pemikiran itu dari dulu, saya tidak mau merepotkan atau membebani orang tua saya terus menerus. Karena setelah mendengar beberapa deskripsi dari teman satu kelompok, saya ingin menjadikan diri saya lebih baik lagi. Lebih bisa menjadi sosok yang peduli dan lebih mengahargai pengorbanan orang tua yang sudah diberikan kepada saya.
5.Conclusion (Kesimpulan)
     Kegiatan ini mengingatkan saya untuk selalu bersyukur atas apa yang sudah orang tua saya lakukan untuk saya. Menjadi orang sukses itu merupakan prioritas pertama untuk saya. Membahagiakan orang tua, mengangkat derajat orang tua saya yang sebagai seorang petani itu hal yang harus dicapai. Namun, sebagai seorang anak yang selalu ada untuk orang tua d masa yang akan datang itu hal yang paling istimewa.
6.Action Plan (Rencana)
     Dengan semua yang saya rasakan saya ingin memulainya dari awal untuk menjadi sosok pribadi yang lebih baik lagi. Jika orang lain bisa melakukannya, kenapa saya tidak ? Maka dari itu saya akan mulai mencobanya dari sekarang. Salah satunya adalah meninggalkan sifat egois saya. Dan akan menjadi seseorang yang selalu menghargai pengorbanan orang tua.